Narakalbar. Pontianak – Kesempatan pendidikan tinggi kini semakin terbuka luas bagi seluruh penyandang disabilitas di IAIN Pontianak. Hal ini dirasakan langsung oleh Muhammad Fakhrul Maulana, mahasiswa semester 1 Program Studi Manajemen Dakwah sekaligus juru bahasa isyarat, yang mendampingi mahasiswa tuli dalam proses perkuliahan.

“Saya pikir hanya daksa, netra saja yang bisa berkuliah, ternyata seluruh disabilitas termasuk tuli juga bisa berkontribusi menjadi mahasiswa IAIN Pontianak ini,” ujarnya pada wawancara, Selasa (23/9/2025).

Menurut Fakhrul, tantangan menjadi juru bahasa isyarat tidaklah ringan. Ia dan rekannya dituntut untuk menyerap informasi dari dosen lalu segera menyampaikannya kepada mahasiswa tuli.

“Tantangannya juga cukup berat, karena kita (juru bahasa isyarat) main semuanya ya otak kanan dan otak kiri. Kita mendengar seluruh informasi dari dosen setelah itu menyampaikan kepada teman tuli,” jelasnya.

Meski penuh tantangan, Fakhrul merasa bahagia dan terharu karena mahasiswa tuli kini mendapatkan hak setara dalam pendidikan.

“Sangat sangat great full, sangat sangat bahagia serta haru, karena mereka bisa mendapatkan haknya baik segala aspek dari kesetaraan pendidikannya, kesehatannya, pekerjaannya hingga pelayanan publiknya,” ungkapnya.

Fakhrul juga mengapresiasi kebijakan kampus yang mendukung akses pendidikan inklusif. “Alhamdulillah IAIN Pontianak memberikan kesempatan kepada semua teman-teman tuli untuk tidak dikenakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) alias gratis. Saya dan Romli selaku juru bahasa isyarat dan mahasiswa dikenakan UKT 1,” jelasnya.

Ia berharap langkah inklusif ini bisa terus diperluas, tidak hanya di kampus tetapi juga di masyarakat secara luas. “Harapannya bukan kuliah saja, tapi kota maupun negara kita bisa membuka ruang yang lebih inklusif,” tutupnya.

Sementara itu, Dr. Surha Wardi, M.S.I Selaku Kaprodi Manajemen Dakwah IAIN Pontianak menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen mendukung penuh mahasiswa disabilitas untuk bisa belajar dengan nyaman.

“Kami berusaha menghadirkan lingkungan perkuliahan yang ramah disabilitas. Kehadiran juru bahasa isyarat adalah bentuk komitmen kami agar mahasiswa tuli bisa mengikuti pembelajaran secara maksimal,” ungkap Suhra Wardi.

Ia menambahkan, keberagaman mahasiswa menjadi kekuatan sekaligus kesempatan bagi kampus untuk membangun budaya akademik yang inklusif.

“Kami percaya bahwa setiap mahasiswa, tanpa terkecuali, memiliki potensi besar. Tugas kampus adalah memastikan tidak ada hambatan bagi mereka dalam mengakses ilmu,” tegasnya.

editor : wicanduit

Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *